Oil & Gas

Pemerintah Bentuk Tim Awasi Teknologi Pengurasan Minyak

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal membentuk tim khusus untuk memantau implementasi teknologi pengurasan minyak tindak lanjut (enhance oil recovery/EOR) secara penuh (full-scale) di Lapangan Tanjung, Kalimantan Selatan. Tim dibentuk dalam rangka penyusunan langkah strategis percepatan peningkatan produksi minyak di lapangan tersebut.

“Pak Menteri (Ignasius Jonan) akan membuat Surat Keputusan di mana saya akan menjadi Ketua Percepatan Penerapapan EOR secara full scale. Pengarahnya Kepala SKK Migas dan wakilnya Direktur Utama Pertamina,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Djoko Siswanto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Senin (27/8).

Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi minyak Lapangan Tanjung saat ini sekitar 2.300 barel per hari (bph). Jika teknologi EOR polimer berhasil diterapkan hingga 2035, penambahan produksi kumulatifnya diperkirakan sekitar 34 ribu stok tank barel (MSTB).

Uji coba perdana EOR full-scale di Lapangan Tanjung akan dilakukan oleh operator PT Pertamina EP (PEP) dengan menggandeng perusahaan asal Spanyol, Repsol, tahun ini. Teknologi EOR yang digunakan menggunakan injeksi polimer. Nantinya, Repsol bakal mengirimkan proposal kerja sama penggunaan teknologi EOR pada akhir bulan ini.

Material polimer untuk tes injeksi sudah berada di Jakarta. Sementara, unit injeksi polimer masih dalam proses pengiriman dan akan tiba di Lapangan Tanjung akhir Oktober 2018. Selanjutnya, injeksi polimer dan peresmian akan dilakukan pada pertengahan bulan November 2018.

Selain di Lapangan Tanjung, uji coba EOR juga telah dilakukan Chevrondi Lapangan Minas yang merupakan bagian dari Blok Rokan dengan investasi mencapai US$235 juta. Pengembangan teknologi EOR di Blok Rokan akan dilanjutkan oleh Pertamina setelah mengambil alih pengelolaan dari Chevron pada 2021.

Rencananya, Pertamina akan menggunakan teknologi EOR dengan injeksi kimia di Blok Rokan. Bahan kimia yang digunakan saat ini masih diimpor dari luar negeri sehingga biayanya mencapai US$50 per barel. Jika bahan kimia bisa dipasok di dalam negeri, biaya produksi berpotensi untuk ditekan menjadi US$10 per barel.

Produksi Minyak Turun

Djoko menekankan pemerintah serius untuk menerapkan teknologi EOR mengingat produksi minyak Indonesia terus menurun. Dengan teknologi EOR, laju perlambatan produksi minyak bisa ditahan.

Sejak 2010 hingga 2017, Kementerian ESDM mencatat produksi minyak siap jual (lifting) dalam negeri telah merosot sekitar 15,2 persen. Pada 2010, produksi minyak rata-rata di level 945 ribu barel per hari (bph). Selang setahun, turun menjadi 902 ribu bph dan tahun lalu menjadi 801 ribu bph.

Per semester I 2018, rata-rata produksi minyak hanya 773 ribu bph atau di bawah target APBN 2018 yang dipatok 800 ribu bph. Tahun depan, pemerintah menargetkan produksi lifting minyak hanya di level 750 ribu bph.

“Tanpa ada penambahan lapangan baru, penurunan produksi migas masih akan terjadi,” ujarnya.

Penurunan produksi utamanya disebabkan oleh umur lapangan migas Indonesia yang sudah cukup tua. Selain itu, volatilitas harga minyak juga turut mempengaruhi keputusan investor untuk melakukan eksplorasi.

Dari sisi regulasi juga masih ada kendala misalnya ketidaksinkronan aturan dengan kementerian/lembaga (k/l) terkait seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Ingin eksplorasi ternyata lahannya masuk kawasan hutan. Urus izinnya lama bisa dua tahun,” ujarnya.

Selain penerapan EOR, pemerintah juga menerapkan berbagai kebijakan untuk menggenjot produksi. Di antaranya, mempermudah calon investor mengakses data subsurface, mempermudah skema lelang Wilayah Kerja (WK) dengan persyaratan yang tidak memberatkan, dan percepatan dokumen perencanaan dan pengembangan.

Source: www.cnnindonesia.com