Oil & Gas

Kesepakatan NAFTA AS-Meksiko Dongkrak Harga Minyak

Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin (27/8), waktu Amerika Serikat (AS). Kenaikan harga terjadi seiring penguatan di pasar modal. Selain itu, kenaikan harga juga lantaran imbas positif pemberitaan kesepakatan AS dan Meksiko untuk memperbaiki Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Dilansir dari Reuters, Selasa (28/8), harga minyak mentah berjangka Brent menanjak US$0,39 per barel atau 0,5 persen menjadi US$76,21 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,5 atau 0,2 persen menjadi US$68,87 per barel.

Sepanjang pekan lalu, harga WTI tercatat menguat 4,3 persen secara mingguan. Sementara, harga Brent meningkat 5,6 persen.

Kemarin, AS dan Meksiko sepakat untuk melihat kembali perjanjian NAFTA. Hal itu memberikan tekanan pada Kanada untuk menyetujui ketentuan baru terkait aturan perdagangan dan penyelesaian sengketa, apabila ingin tetap berada di pakta ketiga negara.

“Kesepakatan dagang dengan Meksiko secara pasti merupakan faktor pendorong (harga minyak),” ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Ia menjelaskan lebih lanjut, dibukanya penghambat perdagangan bakal mendorong pertumbuhan dan meningkatkan ekspektasi permintaan minyak.

Sebelumnya, ada kekhawatiran kedua negara gagal mencapai kesepakatan bilateral yang berakibat pada tertekannya harga minyak akhir pekan lalu. 

Harga minyak turun dari level tertinggi pada sesi perdagangan, karena kekhawatiran pasar terhadap risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan permintaan jika kedua negosiasi kedua negara gagal.

Namun, harganya menanjak kembali. Faktor penguatan lainnya adalah reli di pasar modal AS dimana indeks saham S&P dan Nasdaq menyentuh level tertingginya sepanjang sejarah. Sebagai catatan, pasar minyak berjangka dan pasar modal cenderung bergerak beriringan.

Sumber Reuters menyatakan komite pengawas Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan non OPEC mencatat negara produsen minyak telah memangkas produksinya sebesar 9 persen atau lebih banyak dari yang disepakati sebelumnya. Apabila melihat tingkat kepatuhannya sebesar 120 persen pada Juni dan 147 persen pada Mei, maka bisa dibilang para anggota mengerek produksinya terus-menerus.

OPEC dan sejumlah negara produsen lain, termasuk Rusia, sepakat untuk mengerek produksinya pada Juni lalu setelah menjalankan kesepakatan pemangkasan produksi sejak Januari 2017 lalu. Kebijakan kenaikan produksi dilakukan untuk mengimbangi merosotnya produksi dari Venezuela dan sejumlah negara lain.

Anggota pengawas terdiri dari perwakian Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kuwait, Aljazair, Venezuela, dan Oman.

Harga minyak telah terangkat pada beberapa minggu terakhir karena persepsi pasar bakal mengetat seiring berlakunya sanksi AS terhadap Iran mulai November mendatang.

“Sementara sanksi Iran bukan merupakan pemberitaan yang baru, namun pernyataan Gedung Putih terkait pengecualian pemberlakukan sanksi akan dibatasi telah mengerek harga minyak pekan lalu,” terang Presiden Ritterbursch and Associates Jim Ritterbusch dalam catatannya.

Dalam pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron, Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan Iran ingin Eropa memberikan jaminan pada sektor perbankan dan penjualan minyak serta sektor asuransi dan transportasi.

Sementara, pelaku pasar menyatakan kenaikan harga pada perdagangan kemarin tertahan setelah perusahaan market intellegence Genscape merilis data persediaan minyak mentah di hub pengiriman Cushing, Oklahoma, naik sekitar 740 ribu barel dari 21 – 24 Agustus 2018.

 

Source: www.cnnindonesia.com